Desa Mandalamekar, Kec. Jatiwaras, Kab. Tasikmalaya, Jawa Barat

Desa Mandalamekar merupakan daerah perbukitan yang berada di Kecamatan Jatiwaras, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat. Luas daerahnya kurang lebih sebanyak ± 709,45 ha dengan jumlah penduduk sebanyak 3312 jiwa. Mereka mendiami rumah-rumah di perkampungan yang terletak di lereng-lereng bukit. Sehingga tidak heran jika jalan menuju ke desa ini merupakan jalanan khas perbukitan yang terjal dan berbatu besar. Meskipun begitu, keadaan akses jalan yang seperti itu tidak menyurutkan semangat para warga Desa Mandalamekar untuk terus menggali potensi alam Mandalamekar yang kaya akan sumber daya hayati.

Hutan yang hijau, dan mata air yang jernih, dapat dilihat sebagai unsur yang menghidupkan desa ini. Oleh karena itu, Desa Mandalamekar merupakan salah satu contoh desa di Indonesia yang mandiri, baik dalam menyikapi keterbatasannya perihal akses jalan, hingga usahanya dalam melakukan konservasi hutan lindung dan daerah aliran sungai di desa nya. Semua itu dilakukan untuk menunjang perekonomian masyarakat yang dapat berimbas kepada kesejahteraan masyarakat Desa Mandalamekar.

Desa Mandalamekar juga termasuk ke dalam desa yang memanfaatkan fasiltas DBT (Desa Broadband Terpadu) dengan baik. Dengan terus menyuarakan visi nya “Leuweung Nganteng Kaca Nunggal[1], yang berarti “Hutan Lestari Cermin Kehidupan”. Web desa dijadikannya sebagai media untuk bertukar pengalaman dan pengetahuan terkait dengan pembangunan desa, terutama sebagai desa yang sangat peduli terhadap konservasi.

Geografi dan Iklim

Desa Mandalamekar berada pada ketinggian ± 320 di atas permukaan laut dengan bentang wilayah perbukitan. Berdasarkan pada data yang disajikan dalam website mandalamekar.desa.id, luas wilayah Desa Mandalamekar kurang lebih seluas 709, 45 ha, dan terdiri dari: ±40 ha untuk wilayah permukiman; ±76 ha tanah sawah; ±500 ha tanah kering/ kebun; ±20 ha tanah kas desa; dan ±73 ha hutan lestari (hutan adat), yaitu di Karangsoak, Pasir Salam, Ciganasoli, Carulang, Pasir Badak, Pasir Bentang, Cikujang, Cisambel, dan Cipacet[2].

Desa Mandalamekar meliputi 4 dusun, 6 RW (Rukun Warga), dan 17 RT (Rukun Tetangga)[3]. Dusun-dusun tersebut diantaranya:

  • Dusun Cinunjang
  • Dusun Mekarjaya
  • Dusun Cinangsi
  • Dusun Mekarsari

Adapun Desa Mandalamekar berbatasan dengan desa-desa lainnya, diantaranya:

Utara               : Desa Kertarahayu

Timur               : Desa Mandalahurip

Selatan            : Desa Cibalong

Barat               : Desa Kersagalih

Sejarah Desa Mandalamekar

Desa Mandalamekar merupakan hasil pemekaran wilayah dari Desa Kersagalih tahun 1977, dan resmi berdiri menjadi desa pada tahun 1978 yang meliputi 4 dusun, 6 RW (Rukun Warga), dan 17 RT (Rukun Tetangga). Pada tahun 2002, Desa Mandalamekar kembali mengalami pemekaran karena daerahnya yang terlalu luas. Yaitu menjadi Desa Mandalamekar dan Desa Mandalahurip di sebelah Timur.

Berikut susunan Kepala Desa dimulai sejak tahun 1978[4]:

  1. Nana (alm) dari tahun 1978 -1988
  2. Barjah Nur dari tahun 1989 – 1996
  3. Jenal (Pjs) dari tahun 1997 – 1998
  4. Ruswandi dari tahun 1999 – 2005
  5. Yana Noviadi dari tahun 2007 s/d sekarang

Selain itu, Desa Mandalamekar juga berkaitan erat dengan sejarah penyebaran islam di Jawa Barat. Terdapat situs-situs bersejarah seperti makam keramat dan gua-gua, yaitu Gua Tasbih dan Gua Mesjid, yang pada zaman dahulu dijadikan sebagai tempat penyucian diri. Selain itu, terdapat juga makam para ulama Islam yang diperkirakan telah ada sejak tahun 1700, berdasarkan pada perkiraan tersebarnya Islam di Jawa Barat[5].

Administrasi dan Kelembagaan

Gambar 1. Gambar didapat dari pandu desa Mandalamekar.

Dalam struktur administrasi pemerintahannya, Desa Mandalamekar dipimpin oleh seorang Kepala Desa atau juga yang biasa disebut “kuwu”/ “Pak Kuwu”, yang dipilih melalui mekanisme Pilkades. Kepala Desa dalam kepengurusannya dibantu oleh perangkat-perangkat desa seperti Sekretaris Desa.

 

 

Gambar 2. (https://mandalamekar.wordpress.com/about/perangkat-desa/) diakses pada 10 Februari 2017.

Selain itu terdapat kelembagaan seperti BPD, LPM, MUI, PKK, dan Karang Taruna yang berperan dalam keberlangsungan Desa Mandalamekar. Terdapat juga perkumpulan atau organisasi yang bergerak di bidang pelestarian lingkungan, yaitu kelompok Mitra Alam Munggaran, Ruyuk FM, dan kelompok ternak kambing Mitra Manggala.

Kependudukan

  1. Keadaan Penduduk

Jumlah penduduk Desa Mandalamekar sesuai dengan data penduduk sampai dengan tahun  2015 Sebanyak  3312 Jiwa laki-laki 18 % perempuan 16 % yang terdiri dari :

  • Laki – laki : 1761  jiwa
  • Perempuan : 1551  jiwa

Jumlah KK        : 890

  1. Struktur Penduduk Menurut Umur:

USIA LAKI-LAKI

(Orang)

PEREMPUAN

(Orang)

0-5 tahun 116 110
6 -12tahun 222 185
13-15 tahun 86 96
16-18 tahun 129 94
19-24 tahun 220 157
25-29 tahun 136 103
30-34 tahun 122 122
35-39 tahun 121 122
40-44 tahun 125 121
45-49 tahun 98 106
50-54 tahun 117 89
55-59 tahun 66 67
60-64 tahun 67 59
65-69 tahun 48 42
70-74 tahun 37 54
75 Keatas 51 24
Total 1.761  orang 1.551 orang

Keadaan Sosial Ekonomi

Mata pencaharian penduduk Desa Mandalamekar sebagian besar dipengaruhi oleh keadaan wilayah yang terdiri dari tanah perkebunan dan persawahan. Adapun mata pencaharian penduduk berdasarkan presentase adalah sebagai berikut :

  • 88 % adalah petani ( pemilik, penggarap dan buruh tani)
  • 5 % adalah pedagang dan wiraswasta
  • 4 % adalah tenaga pertukangan dan pengrajin
  • 3% adalah Pegawai Negeri Sipil, TNI/ POLRI, Pensiunan dan Perangkat Desa

Dari paparan di atas, dapat dilihat bahwa mata pencaharian masyarakat di Mandalamekar cukup beragam. Meskipun begitu, tetap saja yang menjadi mayoritas mata pencaharian masyarakat adalah bertani dan berkebun, dengan hasil berupa buah-buahan seperti manggis, durian dan buah-buahan lainnya, dan juga produksi kelapa yang sering dijadikan bahan untuk pembuatan minyak. Hal itu sangat didukung oleh kondisi alam Desa Mandalamekar yang asri, terlebih setelah adanya upaya konservasi di sekitar aliran sungai Ciwulan yang menyebabkan masyarakat Desa Mandalamekar tak pernah kekurangan air meskipun ketika musim kemarau datang. Selain itu, beternak juga menjadi salah satu cara penduduk untuk berinvestasi. Sekarang, dengan adanya kelompok ternak kambing (jenis etawa) Mitra Manggala[6] memungkinkan adanya potensi baru dalam pengembangan perekonomian masyarakat di bidang peternakan.

Akan tetapi, di samping mata pencaharian masyarakat yang sangat bergantung kepada kondisi alam Mandalamekar. Terdapat potensi lain yang dapat dikembangkan dengan tanpa mengolah atau pun mengambil dari alam, salah satunya adalah pariwisata. Terdapat beberapa mata air yaitu Curug Sawer dan Curug Cinunjang, ditambah dengan gua-gua yang memiliki keterkaitan dengan alam ghaib para nenek moyang di masa lalu (Gua Tasbih,Gua sajadah,Gua Masigit  dan Gua Karangsoak). Kemudian dengan adanya hutan lindung, para satwa lokal yang pada awalnya terancam punah kini bermunculan seperti kera, burung caladi, burung betet, burung tekukur, elang jawa,macan kumbang dan lutung. Belum lagi kerajinan dari Mandalamekar pun memiliki nilai jual seperti diantaranya berupa bordil, anyaman, mebel, yang didapat dari keterampilan para orang tua yang pernah menjadi pengrajin di berbagai daerah.

 Akses Menuju Desa Mandalamekar/ Transportasi

Sebelum berbicara mengenai transportasi di Mandalamekar, ada baiknya kita mengenali medan jalan menuju Desa Mandalamekar yang mengikuti kontur daerah perbukitan, yaitu menanjak dan menurun. Belum lagi kondisi jalan yang berlubang yang disebabkan oleh mobil truk pengangkut kayu, yang setiap hari berlalu lalang demi menyambung perekonomian warga desa. Pada tahun 2000 masih ada jalanan berbentuk makadam, namun sedikit demi sedikit warga bergotong royong memperbaiki jalan agar dapat dilalui kendaraan dan menghubungkan Desa Mandalamekar dengan desa-desa lainnya.

Dengan kondisi jalan yang seperti itu, jalanan di Desa Mandalamekar dapat dilalui dengan menggunakan kendaraan bermotor yang beroda besar. Selain itu kendaraan umum yang tersedia adalah ojek dan angkutan elf. Dari Kota Tasikmalaya, angkutan elf menuju Mandalamekar dapat ditemukan di Terminal Padayungan.

Pendidikan

Untuk meningkatkan sumber daya manusia dan kesejahteraan masyarakat Mandalamekar, pendidikan merupakan hal yang sangat penting. Penduduk di Desa Mandalamekar rata-rata memiliki latar belakang pendidikan SMU, hal ini menunjukkan bahwa masyarakat memiliki semangat dalam hal pendidikan meski dihadapakan pada keterbatasan-keterbatasan yang berhubungan dengan infrastruktur sekolah dan jalan. Bahkan, sebelum SMP Negeri 2 Jatiwaras berdiri di Desa Mandalamekar, siswa SMP harus menjalani proses pendidikan dengan berjalan kaki di perbukitan sejauh 7 – 9 KM untuk mencapai SMP negeri terdekat (SMPN Cibalong).

Berikut adalah daftar mengenai sekolah-sekolah yang ada di Desa Mandalamekar[7]:

  • SMK Karya Putra Manggala
  • SMPN 2 Jatiwaras
  • SDN Mandalamekar
  • SDN Cinunjang
  • SDN Tamansari
  • SDN Jayamekar
  • TK Mandalamekar
  • TK Jayamekar
  • TPA / RA
  • Pesantren di Mekarjaya, Cilingga dan Cinangsih

Aktivitas Desa Membangun

Pada awalnya Desa Mandalamekar termasuk kedalam kategori desa tertinggal dengan berbagai indikasi yang menandakan ketertinggalannya[8], di antaranya: (1) Jalanan yang sulit untuk diakses dan hanya bisa dilalui oleh elf, mobil besar, dan motor dengan ban besar; (2) Persebaran listrik tidak merata karena sulitnya akses jalan ke desa; (3) Akses pendidikan, yang membuat masyarakat harus rela untuk jalan berkilo-kilo meter untuk pergi ke sekolah; (4) kualitas pelayanan kesehatan yang kurang, karena hanya ada bidan; dan (5) ada pada sektor ekonomi, hal itu akibat dari akses jalan yang buruk menyebabkan harga kebutuhan menjadi tinggi sedangkan harga jual rendah dengan biaya transportasi yang tidak murah, kemudian menyebabkan masyarakat terutama kaum muda memilih untuk pindah ke kota.

  • Perbaikan Akses Jalan Menuju Desa Mandiri

Langkah awal yang dilakukan masyarakat adalah bergotong royong untuk menyikapi permasalahan yang terkait dengan akses jalan. Tanpa berharap pada bantuan dari pihak manapun (termasuk pemerintah), masyarakat bergotong royong dengan melakukan pengerasan jalan di mana-mana, terutama pada bagian tanjakan. Hal itu merupakan langkah awal Desa Mandalamekar meninggalkan citra ketertinggalan nya menuju desa mandiri.

Pada tahun 2007, merupakan awal diadakannya PNPM (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat) di Mandalamekar. Program tersebut kemudian dimanfaatkan untuk memperbaiki jalan dari Cibereum ke batas Desa Mandalamekar, dengan Desa Kertarahayu di Cikujang, semua itu berada di kedusunan Mekarjaya, masih di Desa Mandalamekar. Kemudian pada tahun 2008, pengerasan jalan dilakukan di jalan Pasir Bihbul menuju Cisarua dan Cinangsi ke Cilingga. Kemudian pada tahun 2009, dilakukan pengerasan jalan dari Pasir Bihbul ke Cimanggu. Tentunya program ini dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, karena program ini telah membangun dan memelihara sarana yang selama ini menjadi penghalang bagi masyarakat, terutama dalam hal perekonomian dan pembangunan fasilitas-fasilitas masyarakat seperti sekolah dan puskesmas pembantu.

  • Kembali ke Alam dengan Membangun Hutan Lestari

Langkah yang kedua adalah membangun kembali hutan lestari. Hal itu disebabkan oleh konflik sumber daya alam yang terjadi, sebagai akibat dari menurunnya jumlah debit air yang disebabkan oleh kondisi lahan yang terdiri dari bebatuan cadas. Akibat dari kondisi tersebut, tanah di Mandalamekar menjadi rentan akan terjadinya kekeringan. Konflik tersebut muncul ke permukaan ketika masyarakat saling berebut air untuk mengairi sawah, untuk kebutuhan MCK, dan kolam masing-masing.

Oleh karena itu dilakukan berbagai usaha penanaman sejak tahun 2002, dilakukan oleh para pemuda yang tergabung dalam kelompok Mitra Alam Munggaran dan bekerja secara mandiri. Penanaman tersebut dipusatkan pada daerah sekitar sumber air (Cigandasoli,Karangsoak dan Pasir salam) agar menjadi lestari. Setelah itu dilakukan pemetaan ulang mengenai hutan lindung atau juga hutan mata air yang dalam bahasa lokal disebut dengan leuweung harim (hak rimba). Perlahan-lahan hutan sebagai rumah satwa mulai hijau kembali, dan satwa-satwa seperti monyet, lutung, dan elang jawa dilindungi keberadaannya oleh peraturan yang dibuat oleh kepala desa bersama jajarannya, juga para tokoh masyarakat, kelompok pemuda dan pemuka agama Desa Mandalamekar.

Motivasi masyarakat dalam menghijaukan Mandalamekar ternyata menyebar ke masyarakat lainnya. Mereka mendukung baik dalam bentuk moril ataupun materi, salah satunya dengan menyumbang pasokan bibit-bibit tanaman yang memiliki prospek nilai jual seperti jati, meranti, durian, matoa, dan salak yang ditanam menjadi Wanatani. Selain itu, sebagai kelanjutan kegiatan penghijauan dibuat satu radio komunitas yang digunakan sebagai sarana informasi mengenai penghijauan kepada masyarakat dan diberi nama Ruyuk FM.

Pada akhirnya kerja keras selama bertahun-tahun menunjukkan bahwa alam Mandalamekar masih tetap asri, masyarakat pun tidak pernah kekurangan air sekalipun kemarau datang. Hal itu menunjukkan bahwa Mandalamekar masih menjadi rumah bagi masyarakat, tumbuhan, dan hewan yang tinggal di wilayahnya. Hingga kemudian di tahun 2009 dan 2010,  Desa Mandalamekar menjadi juara I sebagai desa pengelola hutan lestari se-kabupaten Tasikmalaya dan Juara II Lomba Penghijauan dan Konservasi Alam Wana Lestari kategori Desa Peduli Kehutanan (2010) di tingkat provinsi. Visi mandalamekar yang berbunyi leweung nganteng kaca nunggal, diwujudkan melalui kerja keras masyarakat selama bertahun-tahun. Desa ini pun pernah mendapat bantuan dana dari Seacology Prize di tahun 2011.

  • Ruyuk FM dan Jurnalisme Warga

Kemunculan jurnalisme warga Mandalamekar tidak terlepas dari adanya Radio Komunitas Ruyuk 107.8 FM, yang pada awalnya memiliki fungsi sebagai media informasi warga perihal penghijauan yang dilakukan oleh Mitra Alam Munggaran. Ruyuk FM merupakan radio komunitas yang dijalankan oleh warga dengan menggunakan bahasa Sunda dan sudah memiliki banyak pendengar. Tidak hanya di Mandalamekar, Ruyuk FM terdengar hingga ke desa-desa tetangga yang masih dalam satu kecamatan Jatiwaras, dan kecamatan-kecamatan lainnya seperti Cibalong, Karang Nunggal, Salopa, dan Cipatujah.

Nama “ruyuk” sendiri merupakan bahasa Sunda yang berarti hutan belukar, hal itu mewakili perhatian masyarakat dalam melestarikan hutan di Mandalamekar. Ruyuk FM tidak pernah lepas dari mottonya yang berbunyi “Leweung hejo rakyat ngejo, Leweung rusak rakyat balangsat”, yang memiliki arti sangat mendalam bagi warga Mandalamekar yang sebagian besar hidupnya bergantung pada kondisi lingkungan (hutan). Hingga saat ini, Ruyuk FM terus menyiarkan konten-konten yang berkaitan dengan Pertanian, agama, anak muda, kesehatan, konservasi, dan hiburan (musik).

Kemudian, pada pertengahan tahun 2011 Mandalamekar dibuatkan sebuah website dengan alamat mandalamekar.wordpress.com. Website ini diisi oleh warga berisi berita-berita dari desa, agar orang-orang di luar Mandalamekar pun dapat mengetahui apa yang terjadi di desa tersebut. Sejak saat itu Mandalamekar juga menjadi aktif dalam mengembangkan jurnalisme warga agar mereka dapat menyuarakan aspirasinya melalui tulisan. Kemudian desa ini memanfaatkan fasilitas web gratis yang disediakan oleh pemerintah, dan mengubah alamat website nya menjadi mandalamekar.or.id, dan saat ini menjadi mandalamekar.desa.id.


Referensi

[1] (https://mandalamekar.wordpress.com/about/visi-mandalamekar/) diakses pada 10 Februari 2017.

[2] (https://mandalamekar.wordpress.com/about/hutan-lindung/) diakses pada 10 Februari 2017.

[3] (http://mandalamekar.desa.id/2016/11/29/selayang-pandang-ds-mandalamekar/) diakses pada 10 Februari 2017.

[4] (http://mandalamekar.desa.id/profil/sejarah/) diakses pada 10 Februari 2017.

[5] (https://mandalamekar.wordpress.com/about/potensi-desa/) diakses pada 10 Februari 2017.

[6] (http://mandalamekar.desa.id/2016/12/15/kelompok-ternak-kambing-mitra-manggala-desa-mandalamekar/) diakses pada 10 Februari 2017.

[7] (https://mandalamekar.wordpress.com/about/penduduk/) diakses pada 10 Feruari 2017.

[8] (https://mandalamekar.wordpress.com/about/dari-idt-menuju-desa-mandiri/) diakses pada 10 Februari 2017.

Comments

So empty here ... leave a comment!

Tinggalkan Balasan

Sidebar



%d blogger menyukai ini: