Desa Napan, Kec. Bikomi Utara, Kab. Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur

Desa Napan Merupakan Desa yang terletak di Kecamatan Bikomi Utara  Kabupaten Timor Tengah Utara, NTT.esa Napan berada di wilayah pegunungan dan perbukitan. Akses Menuju Desa (Dari Ibukota Provinsi atau Kota Terdekat)Desa Napan berjarak sekitar 214 km dari Kota Kupang. Akses jalan menuju desa cukup baik, karena jalan sudah beraspal baik. Desa Napan dapat dikategorikan sebagai desa pertanian. Hal ini karena sebagian besar masyarakat bekerja sebagai petani. Karena sebagian besar wilayahnya adalah perkebunan dan hutan maka mayoritas mata pencaharian mereka adalah bertani dan berkebun. Desa Napan memliki luas kurang lebih ± 602 ha dengan Topografi Desa meliputi Dataran Tinggi/Rendah/Bukit-Pengunungan. Desa Napan Memiliki Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin dan Kelompok Umur Secara keseluruhan jumlah penduduk Desa Napan adalah 1016 orang, dengan komposisi laki-laki sebanyak 490 orang dan perempuan sebanyak 526 orang. Jika dikelompokkan berdasar kelompok umur, terbanyak sekitar 10,43% berada dalam batas usia antara 11-15 tahun.

Desa Napan mempunyai masyarakat  adat yang masih kental akan keberagaman budaya yang turun temurun dari nenek moyang mereka. Aktivitas yang biasa dilakukan masyarakat desa, baik dari sisi tingkat aktivitasnya hingga sarana dan prasarana yang tersedia, yang meliputi aktivitas seni dan budaya, aktivitas kepemudaan, aktivitas olahraga, dan aktivitas lainnya.

Dengan keberadaan wilayah di perbatasan dan jauh dari ibu kota membuat Desa Napan kurang mendpat perhatian dari pemerintah. Terbukti dengan fasilitas sekolah yang hanya ada satu yaitu sekolah dasar (SD) dengan fasilitas ang sangat buruk.

Desa Napan juga termasuk ke dalam desa yang memanfaatkan fasiltas DBT (Desa Broadband Terpadu) dengan baik. terbukti dengan adanya website desa untuk menyampaikan informasi tentang Desa Napan. tapi tidak banyak istilah seputar teknologi informasi yang dipahami warga. Istilah yang dikenal warga tidak jauh dari seputar Facebook.

Geografi dan Ikim

Desa Napan dapat dikategorikan sebagai desa pertanian. Hal ini karena sebagian besar masyarakat bekerja sebagai petani.

Lokasi Desa (Batas-Batas Wilayah):

Sebelah utara Desa Napan: berbatasan dengan Desa Banain B.

sebelah selatan: Desa Tes.

sebelah timur: Desa Sainoni.

sebelah barat: Negara Timor Leste.

Desa Napan memliki luas kurang lebih ± 602 ha dengan Topografi Desa meliputi Dataran Tinggi/Rendah/Bukit-Pengunungan.

Topografi Desa (Dataran Tinggi/Rendah/Bukit-Pengunungan)

Desa Napan berada di wilayah pegunungan dan perbukitan.

Iklim di Desa Napan sangat bagus untuk pertanian tidak terlalu panas dan terlalu dingin . Suhu rata-rata 24.1o C. Curah hujan rata-rata setiap tahun 1280 mm.

sejarah Desa Napan

Desa Napan awal mulanya ada sejak Tahun 1911, sejarahnya dibagi menjadi dua fase yang penting yaitu tahun 1911-1945 dan 1946-1966

  1. Tahun 1911-1966
  • Pada mulanya, Raja Timor Manek Liurai melakukan perjalanan mengelilingi pulau Timor. Pada akhirnya, dia menetap di sebuah gunung batu yang menjulang tinggi (Fatu Napan) dengan pandangan yang begitu luas dan mampu memandang ke berbagai penjuru mata angin. Secara Leksikal, Napan artinya: Memandang atau dengan arti atau sebutan lain: Kat Napnef (Tidak bisa ditandingi).
  • Manek Liurai akhirnya berkeluarga dan memiliki seorang putra bernama: Anunu Te’u, atau lebih dikenal dengan Anunu Manek. Gelar Nama Anunu Te’u disandangnya karena kemampuannya menjelma bentuk tubuh, baik menjadi seorang wanita cantik, pria gagah perkasa, binatang, dan sebagainya. Setelah dewasa, Anunu Manek berkeluarga dan memiliki empat putera, yaitu: Timo Anunu, Snai Anunu, El Anunu, Ko’i Anunu.
  • Keempatnya kemudian menetap di sebuah kampung bernama Tes, yang berubah nama menjadi Tamukung Tes. Tes sendiri berarti “Tempat Tujuan” atau “Tempat Impian”. Kampung tersebut kemudian menjadi 2 desa, yaitu: Desa Napan dan Desa Tes.
  • Sebelum terbentuk pemerintahan modern, pemimpin besar kedua desa tersebut adalah Anunu Te’u atau Anunu Manek, yang dikenal juga sebagai Tobe. Tampuk kepemimpinan kemudian diwariskan kepada Tua Tetu.
  • Pada era kepemimpinan Tua Tetu, di Tamukung Tes berdiri Sekolah Dasar Katolik (SDK) Tes pada 1930. Sekolah tersebut dibangun secara swadaya oleh masyarakat setempat.
  • Pada masa pemerintahan Tamukung, Tamukung Tes pertama adalah Eli Anunu, yang kemudian diganti oleh Eli Lake, dan akhirnya diganti oleh Lukas Anunu pada tahun 1957.
  • Sebelum 1957, masyarakat Tamukung Tes masih sangat primitif. Umumnya, mereka berdomisili di Bibona, Komben, Babua, Oeme, Tabil, dan Oenae yang dikenal dengan Kampung Tes.
  • Menurut para tetua adat, pemimpin Tes saat itu menghadiri upacara penerimaan benderah merah putih yang pertama kali diberika oleh Presiden Sukarno di Atapupu, Kabupaten Belu.
  1. Tahun 1946-1966

Oleh Tamukung Lukas Anunu, seluruh masyarakat Tamukung Tes dipaksa untuk keluar dari perkampungan primitif. Pada era ini, masyarakat Tamukung Tes juga terdampak Gerakan 30 September/PKI.

  1. Tahun 1966-1971
  • Antonius Ili menjadi Tamukung Lukas Anunu. Kemudian, Tamukung Antonius Ili bersama bawahannya merancang Kota Kampong Tes. Mereka membuat pemukiman dan membuka jalan-jalan kampung serta jalan raya. Saat ini, pemukiman tersebut dikenal dengan nama Ek’oni, Pusmuti, Komben, dan Oelfaub.
  • Pada masa ini, Tamukung Lukas Anunu juga membangun kantor tradisional desa di Komben berbentuk Lopo, atau balai pertemuan. Pekerjaan ini dilakukan secara swadaya dan gotong royong.
  1. Tahun 1972-1975
  • Pada era ini, SDK Tes dipindahkan dari Kampung Tes/Oenae ke Komben, Desa Napan sekarang.
  • Pada periode ini juga terjadi peralihan istilah dari Tamukung menjadi desa sekaligus perubahan nama dari Tamukung Tes menjadi Desa Napan, sesuai dengan nama Batu Pemali.
  • Antonius Ili sendiri menjadi kepala desa dengan gaya baru. Selanjutnya, dia digantikan oleh Yoseph Kolo, yang 3 bulan kemudian diganti oleh Mikhael Kusi yang menjabat selama 13 tahun hingga 1988.
  1. Tahun 1976-1987
  • Pada periode ini, dibangun Kapela Tes sekaligus pemindahan lokasi kantor desa dari Komben ke Laktenas. Kantor desa ini kemudian dibangun secara permanen oleh seluruh masyarakat secara swadaya.
  • Periode ini juga ditandai dengan pemisahan antara lokasi ternak dan perkebunan dengan pembuatan pagar desa sejauh 10 Kilometer. Adapun komoditas yang ditanam adalah tanaman jati, ubi kayu, kemiri, nangka, dan mangga. Hasil dari komoditas sendiri dinikmati oleh seluruh masyarakat Desa Napan, hingga sekarang.
  1. Tahun 1988-1998
  • Pada periode ini, terjadi penggantian Kepala Desa dari Mikhael Kusi kepada Mikhael Eko (1988-1996).
  • Desa Napan juga mendapatkan musibah. Hampir seluruh masyarakatnya terkena wabah kolera dan meninggal dunia.
  • Pada kepemimpinan Mikhael Eko, masyarakat diperkenalkan dengan tanaman pakan yang dikenal dengan Lantoro. Pakan ini berfungsi untuk menggemukan sapi.
  • Selain itu, masyarakat membuka lahan tidur seluas 250 Ha di Kiubatan, Neofmahala, dan Potonaekin. Hasilnya, masyarakat menikmati pakan ternak, ubi kayu, jagung, padi ladang, dan kacang tanah yang melimpah.
  • Mikhael Eko menjabat hingga tahun 1996. Selanjutnya, tapuk kepemimpinan kepala desa beralih ke Milikhior Siki selama tiga tahun, yang selanjutnya diganti pejabat kepala desa Martinus Taeki selama periode 2000-2002.
  1. Tahun 1999-2010
  • Menjelang abad 21, terjadi gejolak di Distrik Oecussi, Timor Leste. Hal ini menyebabkan banyak orang Timor Leste mengungsi ke Desa Napan. Sebanyak 6.400 orang diterima dan dilayani sebagai keluarga oleh masyarakat Napan. Proses ini dikenal dengan istilah “Aifa Ben Neke, Susu Pet Bijael,” yang artinya: Merangkul Semua Orang.
  • Pada periode ini, lahan tidur yang dibuka pada periode sebelumnya, diobrak-abrik oleh ternak warga dan masyarakat pengungsi Timor-Timur. Dampaknya, area ini menjadi lahan tandus, hingga saat ini.
  • Setelah 3 tahun memimpin, Martianus Taeki (PJS) kemudian digantikan oleh kepala desa Siprianus Sani (2003-2007).
  • Pada periode ini, banyak Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang masuk dan bermitra dengan pemerintahan Desa Napan. Mereka umumnya bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Napan. Beberapa LSM tersebut, antara lain: Plan dan Care.
  • Pos Satuan Tugas (Satgas) Pengamanan Perbatasan (Pamtas) TNI dan POLRI mulai terbentuk. Mereka ditempatkan di sebelah barat Desa Napan yang berbatasan langsung dengan Timor Leste. Di sekitar perbatasan juga terjadi pembebasan lahan masyarakat oleh pemerintah. Pemilik lahan mendapatkan ganti rugi atas pembebasan lahan tersebut. Hal ini dilanjutkan dengan pembangunan perumahan TNI dan POLRI sekaligus kantor imigrasi, karantina, dan kantor Bea Cukai di daerah perbatasan.
  • Secara bertahap, desa Napan mulai meningkatkan fasilitas desanya. Salah satunya dengan pembangunan Puskesmas Pembantu (Pustu) di Berpenu. Fasilitas ini dibangun di atas lahan hibah dari masyarakat seluas 1 Ha. Hibah masyarakat lainnya adalah lahan seluas 3 Ha untuk pembangunan USB SMP Negeri Napan. Sekolah ini berdiri pada 2007 dengan biaya dari pemerintah pusat sebesar Rp. 1,3 miliar. Selain itu, masyarakat juga menghibahkan lahan seluas 10 Ha di Kiubatan untuk pembangunan Kantor Kecamatan Bikomi Utara.
  • Pada tahun 2008, terjadi suksesi kepemimpinan kepala desa dari Siprianus Sani kepada Yohanis Anunu.
  1. Tahun 2014-2019
  • Pada periode ini, Desa Napan menggelar pemilihan kepala desa. Proses ini dimenangkan oleh kepala desa incumbent atas nama Yohanis Anunu.
  • Puskesmas Pembantu (Pustu) statusnya meningkat menjadi Puskesmas.

Listrik mulai masuk Desa Napan. Selain itu, akses jalan juga ditingkatkan. Hal ini ditandai dengan pelebaran sekaligus pengaspalan jalan raya dari kabupaten sampai Desa Napan.

Administrasi dan Kelembagaan

Dalam struktur administrasi pemerintahannya, Desa Napan dipimpin oleh seorang Kepala Desa. Pemilihan kepala Desa dilakukan secara Demokratis melalui mekanisme Pilkades. Kepala Desa dalam kepengurusannya dibantu oleh perangkat-perangkat desa seperti Sekretaris Desa.

selain itu di Desa Napan memiliki lembaga-lembaga lain diantaranya:

Kependudukan

Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin dan Kelompok Umur. Secara keseluruhan jumlah penduduk Desa Napan adalah 1016 orang, dengan komposisi laki-laki sebanyak 490 orang dan perempuan sebanyak 526 orang. Jika dikelompokkan berdasar kelompok umur, terbanyak sekitar 10,43% berada dalam batas usia antara 11-15 tahun.

Berikut uraian kelompok penduduk Desa Napan Menurut usia:

Usia Laki-laki Perempuan Usia Laki-laki Perempuan
0-11 bulan 4 2 39 tahun 8 11
1 tahun 7 10 40 5 10
2 6 8 41 6 4
3 9 6 42 2 8
4 9 10 43 7 4
5 7 17 44 3 2
6 9 9 45 3 5
7 9 10 46 4 10
8 16 7 47 6 4
9 11 10 48 4 6
10 16 9 49 10 8
11 16 19 50 8 6
12 13 9 51 1 9
13 15 12 52 5 8
14 8 24 53 5 3
15 13 11 54 3 8
16 8 12 55 4 2
17 10 12 56 7 0
18 9 12 57 1 3
19 10 14 58 5 3
20 10 5 59 3 4
21 11 11 60 4 4
22 12 9 61 2 1
23 10 12 62 3 3
24 6 11 63 2 0
25 10 10 64 3 9
26 9 5 65 4 1
27 7 10 66 5 1
28 4 7 67 1 1
29 8 3 68 0 3
30 6 8 69 4 3
31 6 6 70 1 1
32 5 6 71 2 2
33 2 6 72 3 2
34 4 7 73 1 0
35 3 4 74 5 6
36 7 9 75 2 1
37 2 1 Lebih dari 75 11 12
38 10 5 Jumlah 490 Orang  D526 Orang
Total 1.016

Jumlah Penduduk Berdasarkan Suku Bangsa

Jika diurutkan berdasar jumlah suku bangsa, yang terbanyak adalah suku Siki, suku Kefi, suku Nule, suku Kolo, suku Eko, suku Eki.

Keadaan Sosial dan Ekonomi

warga Desa Napan sebagian besar adalah seorang petani. Dengan memanfaatkan lahan hutan dan tanah yang subur itu dimanfaatkan dengan baik oleh warga sekitar. Selain bertani Desa Napan mempunyi potensi yag cukup berpengaruh dalam perekonomian yaitu madu hitam di hutan Desa Napan. Madu Napan Sangat Khas Rasanya serta Sangat Kental Karena Diambil dari Hutan Dan diperoleh dari Lubang Kayu,Batu,Dan Tanah. Berbeda Dengan Lebah Yang Bergantungan Di atas Pohon yang mana Madunya Agak sedikit Encer/cair. A eo One/A hel One ( Si Pemburu Madu) Tidak Semua Orang dapat melakukan Hal Ini/mengambil Madu Dari Sarangnya butuh keahlian dan ketrampilan khusus untuk bisa menemukan sarang lebah. Biasanya Si pemburu keluar mencari disaat pagi dan sore hari,jika sudah terlihat maka si pemburu akan mengikuti jejak lebah yang terbang hingga ke sarangnya. Tidak Ada Ritual Khusus yang dilakuakan pada saat pengambilan Madu Dari lubang Tanah,Batu,Kayu Si pemburu hanya mengoleskan Sedikit Ramuan Di Tangannya agar tidak tersengat Lebah.
Kami Menjamin Keaslian Serta Kemurnian Madu Napan Karena Kami Memperolehnya Langsung Dari Para Pemburu Madu Di Desa Napan.

Selain madu hitam yang menjadi khas Desa Napan, ada juga hasil alam yang sangan berpotensi menjdi penghasilan bagi warga Desa Napan yaitu buah asam, Desa Napan Merupakan Salah satu Wilayah Di Kabupaten Timor Tengah Utara Yang Kaya Akan Potensi Alam Salah SatuNya Yaitu Buah Asam. Namun Karena Kurangnya Ketermpilan , Keahlian , Pengalaman Serta Keterbatasan Informasi Maka Potensi Ini Kurang Dimanfaatkan Dengan Maksimal. Biasanya Pada Saat Musim Panen Buah Asam, Masyarakat Memetik , Mengupas Dan langsung Dijual Kepada Tengkulak Dengan Kisaran Harga Rp. 4.000 Sampai Rp.6.000 Per kilo Ungkap Kepala Desa Napan Yohanis Anunu.

Kegiatan Pelatihan Dan  Pengolahan Buah Asam Yang Difasilitasi Oleh Dinas Naker Trans Kabupaten Timor Tengah Utara Di ikuti Oleh 20 orang peserta (15Wanita dan 5 pria), Berlangsung Selama Lima Hari Kerja  (10-15 Oktober 2016) Dengan Agenda Kegiatan , Pembuatan dodol Asam,  Sirup Asam,Permen Asam,dan Manisan Asam.

Dalam Acara Pembukaan  Kepala Dinas Naker Trans Kabupaten T T U Bernardinus Totnai S.sos Mengatakan ,  Buah Asam Dapat diolah Menjadi beberapa jenis makanan bahkan bisa juga untuk obat-obatan. Beliau berharap semoga dengan adanya kegiatan ini dapat meningkatkan ekonomi rumah tangga dan bisa berkembang menjadi Home Industri Serta bisa Menjadi Produk Lokal Kebanggaan Desa Napan.

  1. Jumlah Penduduk Berdasarkan Latarbelakang Pekerjaan

 

JENIS PEKERJAAN LAKI-LAKI PEREMPUAN
Petani 227 Orang 227 Orang
Buruh tani 0 Orang 0 Orang
Pegawai Negeri Sipil 16 Orang 4 Orang
Pengrajin Industri rumah tangga 0 Orang 0 Orang
Pedagang keliling 0 Orang 0 Orang
Bidan swasta 0 Orang 0 Orang
Perawat swasta 0 Orang 0 Orang
TNI 0 Orang 0 Orang
POLRI 0 Orang 0 Orang
Pensiun PNS/TNI/POLRI 1 Orang 4 Orang
Pengusaha 0 Orang 0 Orang
Dukun kampung terlatih 0 Orang 0 Orang
Jasa pengobatanalternatif 0 Orang 0 Orang
Karyawan perusahaan  swasta 0 Orang 0 Orang
Karyawan perusahaan Pemerintah 0 Orang 0 Orang
Total 224 235

 

  1. Kondisi Fasilitas/Sarana Mata Pencaharian Utama Masyarakat Desa

Buruk. Sejak bulan Maret 2015 tidak turun hujan, sehingga lahan perkebunan menjadi kering dan sulit untuk ditanami. Petani hanya mengandalkan air hujan, sehingga selama musim kemarau para petani tidak bisa menggarap lahan. Maka dari itu, beberapa masyarakat juga memiliki hewan ternak untuk menambah penghasilan, seperti berternak sapi, kambing, babi.

  1. Produk/Komoditas Utama Yang Dihasilkan

Berdasar sektor pertanian, komoditas utama yang dihasilkan adalah padi dan jagung. Sedangkan untuk sektor peternakan adalah sapi, kambing, dan babi.

  1. Kegiatan Jasa Utama Masyarakat Desa

Tukang Ojek dan Sopir Angkot

  1. Rata-Rata Pendapatan / Bulan Masyarakat Desa

Kurang dari Rp. 1.000.000,-/bulan

Akses menuju Desa Napan / Transfortasi

Akses Menuju Desa (Dari Ibukota Provinsi atau Kota Terdekat ) Desa Napan berjarak sekitar 214 km dari Kota Kupang. Akses jalan menuju desa cukup baik, karena jalan sudah beraspal baik . Namun untuk akses jalan menuju perkampungan masih kurang bagus dan perlu perbaikan. Alhamdulillah sekarang di Desa Napan sedang ada perbaikan jalan meuju perkampungan secara bertahap.

Pendidikan

Mayoritas tingkat pendidikan masyarakat  di Desa Napan adalah lulusan Sekolah Dasar (SD) 26,28%Kondisi Bangunan Sekolah (SD-SLTA). Terdapat satu sekolah dasar yaitu SD Katolik Tes, kondisinya sangat buruk. Dengan tempat yang tidak terlalu luas, harus digunakan sekitar 250 murid untuk belajar. Fasilitas belajar mengajar seperti meja, kursi, tidak terlalu baik. Selain SD, terdapat SMP Negeri yang kondisinya cukup baik. Kondisi ruang kelas dan lingkungan sekolah cukup baik. Fasilitas belajar mengajar juga cukup memadai dan dalam kondisi yang baik. Di dalam area sekolah juga terdapat asrama tempat tinggal bagi guru yang mengajar di SMP tersebut.

Aktivitas Desa Membangun

Comments

So empty here ... leave a comment!

Tinggalkan Balasan

Sidebar



%d blogger menyukai ini: